- Pimpinan Pondok Pesantren PTQ Al Azhaar Ummu Suwanah, Diduga Mencabuli Beberapa Siswa
- Dorong Orang Tua Melek Gizi, Alfamidi Gelar Edukasi Nutrisi Anak
- DPRD Pastikan Peserta BPJS PBI Aman, Andri Permana: Warga Kota Tangerang Tak Perlu Panik
- Wakil Ketua I DPRD, Andri : Pembinaan Basket Berbasis Kolaborasi Jelang Porprov Banten 2026
- Turidi Hadiri Milad HMI Ke-79
- Ketua DPRD Hadiri Tangerang Bersholawat
- Perangi Darurat Sampah, DPRD Dukung Aksi Gerakan Indonesia Asri di Kota Tangerang
- DPRD Kota Tangerang Dorong Percepatan Pemulihan Kerusakan Ruas Jalan
- Matangkan Persiapan Porprov 2026, Perbasi Kota Tangerang Perkuat Pembinaan dari Sekolah hingga Rumah
- Diduga Jadi Korban Kelalaian Petugas Palang Pintu KA, Kuasa Hukum Korban Akan Tuntut PT KAI dan PT KCI
Airlangga akui kenaikan PPN jadi 12%

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui bahwa kenaikan Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) menjadi 12% akan berpengaruh pada kenaikan inflasi. Adapun kenaikan PPN
dari 11% menjadi 12% sendiri mulai berlaku per 1 Januari 2025.
Hal tersebut disampaikan oleh Airlangga usai acara Peluncuran EPIC Sale di
Alfamart Drive Thru, Alam Sutera, Tangerang, Banten, Minggu (22/12/2024). Meski
demikian, menurutnya pengaruh kenaikan PPN tidak akan terlalu signifikan.
"Jadi tentu dari segi kenaikan ini (PPN menjadi 12%) pengaruh inflasi ada.
Akan tetapi, relatif tidak terlalu tinggi," kata Airlangga.
Menurut Airlangga, sektor transportasi menjadi salah satu yang berpengaruh
besar terhadap inflasi. Selaras dengan itu, pemerintah membebaskan sektor
transportasi dari PPN alias PPN 0% di tahun depan. Hal ini juga sebagai salah
satu stimulus dalam menjaga daya beli masyarakat.
Pembebasan PPN juga diberikan khususnya untuk bahan pokok penting. Airlangga
menambahkan, beberapa bahan pokok juga ditanggung PPN-nya oleh pemerintah
sehingga tetap di angka 11%.
"Jadi kalau misalnya, contoh tepung terigu, minyak kita, kemudian gula
industri, yang sebelumnya sudah bayar PPN 11%, ini tetap 11%, bukan dari
0," terangnya.
Selain itu, berbagai stimulus lainnya juga diberikan pemerintah pada tahun
depan. Salah satunya seperti pemberian diskon tarif listrik 50% periode
Januari-Februari. Kemudian ada juga insentif pembelian rumah rumah Rp 2 miliar
bebas PPN.
Dari segi mobilitas, PPN untuk motor listrik ditanggung pemerintah (DTP).
Demikian pula untuk mobil listrik dilanjutkan, bahkan ditambahkan potongan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) sebesar 3%.
"Nah itu kan membuktikan pemerintah memperhatikan apa yang dibeli oleh
masyarakat," kata dia.
Ia juga menegaskan bahwa transaksi QRIS tidak akan kena PPN 12%. Hal ini
seperti transaksi menggunakan debit card, e-money transaksi kartu lainnya,
menurutnya tidak akan terkena dampak kenaikan PPN jadi 12%. Dengan demikian,
transaksi tol juga tidak akan terdampak kebijakan baru ini.
"Transportasi itu tanpa PPN. Jadi yang namanya tol dan kawan-kawannya,
(transaksi e-Money) di tol juga tidak ada PPN," ujar Airlangga, ditemui
usai acara.
Sebagai informasi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebelumnya telah membeberkan
dampak kenaikan PPN menjadi 12% per 1 Januari 2025. Kebijakan itu dinilai tidak
akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan pertumbuhan
ekonomi tahun depan akan tetap dijaga sesuai target Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) 2025 yakni sebesar 5,2%.
"Pertumbuhan ekonomi 2024 diperkirakan tetap tumbuh di atas 5%. Dampak
kenaikan PPN ke 12% terhadap pertumbuhan ekonomi tidak signifikan. Pertumbuhan
ekonomi 2025 akan tetap dijaga sesuai target APBN sebesar 5,2%," ujar
Febrio dalam pernyataan resmi, Minggu (22/12/2024).
Selain itu, Febrio menyebut inflasi akan tetap dijaga rendah sesuai target APBN
2025 di 1,5%-3,5%. Berdasarkan hitungannya, dampak kenaikan PPN 12% hanya
menambah 0,2% terhadap inflasi.
"Inflasi saat ini rendah di 1,6%. Dampak kenaikan PPN ke 12% adalah
0,2%," ucapnya.
(Sumber : detik.com)











